Momen mendapat Offering Letter (surat penawaran kerja) adalah momen yang campur aduk bagi seorang fresh graduate. Di satu sisi rasanya ingin sujud syukur karena akhirnya pecah telur setelah ratusan lamaran. Tapi di sisi lain, saat melihat angka gaji yang ditawarkan, hati kecil mungkin bertanya: “Kok cuma segini ya? Cukup nggak ya buat hidup di Jakarta?”
Banyak lulusan baru terjebak mitos bahwa “anak baru tidak berhak menawar”. Mereka takut jika nego gaji, tawaran kerja akan dicabut. Padahal, negosiasi adalah proses bisnis yang wajar, asalkan dilakukan dengan etika yang tepat.
Jika kamu merasa angka yang ditawarkan di bawah standar pasar, jangan buru-buru tanda tangan. Simak panduan dan strategi cara negosiasi gaji untuk fresh graduate berikut ini agar kamu mendapatkan bayaran yang layak tanpa terlihat sombong.
Baca Juga: 5 Cara Menjadi Pemimpin yang Disukai Bawahan dan Dihormati
1. Riset Dulu, Jangan Asal “Tembak Angka”
Kesalahan fatal pemula adalah bernegosiasi pakai perasaan, bukan data. “Saya butuh 7 juta kak, soalnya kost di sini mahal.” Ini alasan yang salah di mata HRD.
Sebelum wawancara, cari tahu berapa standar gaji untuk posisi tersebut di kotamu. Kamu bisa cek laporan gaji tahunan atau situs survei gaji. Data inilah pelurumu. Jadi, argumenmu akan berbunyi: “Berdasarkan riset pasar untuk posisi Staf Marketing di Jakarta, rentangnya adalah X hingga Y.”
2. Tunggu Momen yang Tepat
Jangan pernah menanyakan gaji di awal wawancara, kecuali HRD yang bertanya duluan. Fokuslah dulu “menjual” skill kamu. Momen terbaik untuk negosiasi adalah saat kamu sudah dinyatakan lolos dan menerima Offering Letter. Di titik ini, posisi tawarnya sudah jelas: mereka menginginkan kamu.
3. Pahami Bahwa Gaji Bukan Satu-Satunya Komponen
Saat angka gaji pokok mentok dan tidak bisa naik, jangan langsung kecewa. Coba perhatikan paket kompensasi lainnya (benefit).
Portal karier Glints menjelaskan strategi negosiasi gaji bagi lulusan baru, di mana kamu disarankan untuk tidak hanya terpaku pada gaji pokok (Take Home Pay), tapi juga menanyakan tunjangan lain seperti asuransi kesehatan, uang transportasi, jatah cuti, atau fleksibilitas kerja (WFH). Kadang, benefit tambahan ini nilainya bisa lebih besar daripada kenaikan gaji 500 ribu rupiah.
4. Gunakan Teknik “Range” (Rentang Angka)
Dalam mempraktikkan cara negosiasi gaji untuk fresh graduate, taktik psikologis ini sangat ampuh. Daripada menyebut satu angka mati (misal: “Saya minta 6 juta”), lebih baik berikan rentang.
Contoh skrip bicaranya:
“Terima kasih atas penawarannya, Bu. Saya sangat antusias dengan posisi ini. Namun, melihat beban kerja dan riset pasar yang saya lakukan, saya berharap ada di kisaran Rp5.500.000 hingga Rp6.500.000. Apakah masih ada ruang untuk diskusi di angka tersebut?”
Memberikan rentang membuatmu terlihat fleksibel dan kooperatif, bukan kaku.
5. Hubungkan dengan “Value” yang Kamu Bawa
HRD hanya akan menaikkan gaji jika mereka yakin kamu layak “dihargai mahal”. Meskipun kamu fresh graduate, kamu pasti punya nilai jual. Ingatkan mereka tentang prestasi magangmu, sertifikasi yang kamu punya, atau skill teknis yang bisa langsung dipakai tanpa perlu training lama. Yakinkan mereka bahwa dengan membayar kamu lebih, perusahaan akan untung karena mendapatkan talenta yang siap kerja.
“Berani Bicara Itu Tanda Profesional”
Menawar gaji bukan berarti kamu mata duitan. Itu tandanya kamu tahu nilai dirimu dan kamu melakukan riset dengan baik. HRD justru sering kali respek pada kandidat yang berani bernegosiasi dengan santun dan berbasis data.
Jadi, buang rasa takutmu. Pelajari lagi langkah-langkah cara negosiasi gaji untuk fresh graduate di atas, lalu hadapi HRD dengan senyum percaya diri. Rezeki tidak akan tertukar, tapi harus dijemput dengan strategi yang benar.

Pebisnis online sejak 2018. Trader dan Investor sejak 2020. Founder Kelas Jagoan dan Surga Digital.






